Pangi dan Saut adalah makanan khas Minahasa, yang dimasak dengan cara dibakar dalam buluh (bambu). Kedua makanan ini kerap ditemui pada acara-acara di kampung-kampung Minahasa yang menggelar maso itam/mingguan (acara pada hari Minggu untuk mengenang keluarga yang telah meninggal), atau acara-acara (pesta) syukuran lainnya.
Era sekarang ini Saut sering tidak tersaji lagi di meja makan. Pangi masih tetap menjadi idola.
Pangi, adalah sajian makanan dari daun-daunan muda (yang oleh masyarakat Minahasa mengambilnya dari Pohon Pangi). Daun Pangi muda ini kemudian diiris setipis mungkin sebelum ditaburi bumbu dan ditambahkan dengan tawa’ babi (bagian lemak putih yang cukup tebal melekat pada daging).
Sedangkan, Saut adalah makanan yang dibuat dari batang pisang. Batang pisang ini diiris sehalus mungkin dan diremas-remas sebelum dibumbui dan ditambah tawa’ babi.
Cara pengolahan Pangi dan Saut hampir sama. Bumbunya sama juga pemakaian tawa’(daging babi) atau ikan laut. Kemudian dibakar dalam buluh (bambu).
Selain menggunakan tawa’ babi, Pangi dan Saut juga bisa menggunakan daging ayam, sapi atau ikan cakalang.
mEMBUAT PAGI & SAUT:
- Goraka (Jahe)
- Batang bawang (rempah)
- Bawang putih
- Sarimbata
- Kokuru (kemangi)
- Daun lemon
- Garam (Tanpa penyedap rasa lain).
- Tawa’ (babi, bisa juga sapi, ayam atau cakalang)
Cara membuat:
Setelah daun Pangi muda dipotong tipis-tipis, kemudian direbus hingga mendidih. Air rebusan dibuang dan daun Pangi kemudian dihampar di atas meja untuk didinginkan sekaligus dipotong-potong.
Pangi dan Saut yang telah dicampuri beragam bumbu dan daging maupun ikan, dimasukkan ke dalam buluh. Selanjutnya dibakar dengan api yang diatur agar buluh tidak hangus.