MAKANTAR, MAKAARUYEN DAN SEKHO MANGAREK

Sekho Mangarek dan Fetty Tampemawa

PERJALANAN MUSIK SEKHO MANGAREK DARI GEREJA, STUDIO REKAMAN HINGGA RELUNG KENANGAN

Di pusat kota Tomohon, ada sebuah toko kecil yang tampak biasa dari luar. Namun, siapa sangka, di balik meja kasir toko itu duduk sosok yang tidak asing bagi telinga para pencinta musik daerah -terutama mereka yang tumbuh bersama alunan khas lagu-lagu Minahasa. Dialah Sekho Mangarek, seniman yang dengan suara dan liriknya pernah (dan masih) mengisi relung kenangan banyak orang lewat grup legendaris Makantar.

Sekho bukan orang yang sulit ditemui. Duduk santai di depan tokonya, ia kerap menyapa atau disapa orang-orang yang lewat. Senyum ramah dan candanya menjadikan setiap pertemuan terasa hangat. Tapi yang mengejutkan, tak sedikit orang yang baru sadar bahwa pria bersahaja yang sedang berbicara dengan mereka itu adalah Sekho Mangarek – sosok di balik lagu-lagu menyentuh hati dari Makantar dan Makaaruyen.

Tak hanya Sekho, istrinya, Fetty Tampemawa, juga dikenal luas. Wajahnya yang kerap muncul di sampul album dan video musik Makantar membuat banyak pelanggan toko merasa familiar, seolah mereka sedang dilayani oleh seorang artis—karena memang begitu adanya.

DARI GEREJA KE STUDIO REKAMAN

Kisah Makantar dimulai pada tahun 1997. Awalnya, ini adalah kelompok nyanyi pemuda-pemudi Jemaat Fungsional Sion Tomohon. Mereka sering membawakan puji-pujian di gereja sebelum akhirnya memberanikan diri masuk dapur rekaman. Personil awalnya: Sekho Mangarek, Fetty Tampemawa, Indra Tampemawa, Debby Lumopa, Alfian Silahoy, Leosantou Gara, Yudisthira Siwu, dan Rheinhold Lengkong.

Di bulan Oktober tahun yang sama, lahirlah album perdana “Om Manis + O”, bergenre pop kreatif, direkam di DL Records Manado. Setahun kemudian menyusul album rohani “Haleluya”, yang memperkuat karakter Makantar sebagai grup dengan napas spiritual yang kuat.

Tahun-tahun berikutnya, produktivitas mereka luar biasa. Lagu “Rindu For Ngana” (1999), “Hati Busu” dan “Seni dan Budaya Minahasa” (2000), hingga “BOM (Bumbu Orang Manado)”, “Pete Cingkeh”, dan “Slow Mar Slack” (2001) menunjukkan bagaimana Makantar tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif terhadap selera pasar.

Makantar grup profile
Makantar grup profile

PERJALANAN BARU, ENERGI BARU

Tahun 2002 menjadi titik balik penting. Karena kesibukan para personel, formasi vokal mengalami perubahan. Maka lahirlah Makaaruyen, wajah baru dari Makantar, dengan formasi baru dan semangat baru. Album perdana mereka, “Haleluya Makaaruyen”, langsung menggebrak pasar dengan ciri khas musik pop yang dikolaborasikan dengan harmoni etnik Minahasa.

Formasi barunya melibatkan: Sekho Mangarek, Fetty HSE Tampemawa, Indra Tampemawa, Hendry Wenas, Herbie Golioth, Maxi ‘Kaps’ Kapoh, dan Sem Jony Lontoh (gitaris Makaaruyen), serta Debby Rumintjap sebagai vokalis featuring.

“Album ini menjadi penguat identitas kami sebagai grup musik daerah yang bisa bersaing di tengah arus musik modern,” tutur Sekho, yang kini menjadi ayah dari tiga anak.

Setelah itu, Makantar terus melaju. Album Natal “Juru Selamat So Datang” (2003), “Saudara Seiman”, “Tinggal di Kobong” (2004 dan 2006), hingga eksperimen menarik dalam “Tete Tambah Gas” (2007) – sebuah album yang memadukan Makaaruyen dengan nuansa hip hop dan rap, mengikuti tren masa itu.

“Waktu itu kami ingin menjangkau generasi muda dengan gaya yang lebih fresh, tapi tetap membawa roh Minahasa dalam musik,” jelas Sekho.

“Album tinggal di Kobong meledak di pasaran,” sambung Drs Eddy ‘Sekho’ Mangarek yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Administrasi Atmajaya Katholik University, 1988.

Makantar grup profile
Makantar grup profile

AKTIVITAS TAK SEPADAT DULU LAGI

Karya-karya Sekho dan Makantar bukan sekadar hiburan. Mereka adalah bagian dari identitas budaya Minahasa yang direkam dalam bentuk nada dan lirik. Mereka bukan hanya menyanyikan lagu, tetapi juga menyampaikan cerita – tentang cinta, kepercayaan, kebanggaan daerah, dan kerinduan akan tanah kelahiran.

Kini, meski aktivitas panggung dan rekaman sudah tak sepadat dulu, Sekho tetap menjadi simbol semangat berkarya yang tidak lekang oleh waktu. Suaranya masih hidup dalam hati banyak orang. Dan di toko kecilnya itu, ia tetap menyapa – bukan hanya dengan kata, tapi dengan kenangan.

Di tengah derasnya arus musik modern, Sekho berdiri sebagai sosok yang teguh menjaga akar budaya Minahasa. Penyanyi, pencipta lagu, dan aktivis kebudayaan ini tak hanya menyanyikan lagu-lagu daerah – ia menghidupkannya kembali dengan cinta, dedikasi, dan semangat Makaaruyen.

“Kami pernah melakukan tur keliling di Amerika Serikat,” tuturnya.

Motivasi Sekho menjadi seniman tumbuh sejak muda. Di rumahnya kala itu, sebuah kolintang menjadi saksi bisu lahirnya kecintaan terhadap musik. “Di rumah kami saat itu ada kolintang. Kolintang ini dibeli ayah saya,” kenangnya.

Kehadiran Sonny Lengkong (almarhum), pelukis Minahasa terkenal, yang sering bertandang ke rumah, juga memberi pengaruh kuat terhadap jiwa seninya.

“Musik Makaaruyen adalah musik rakyat, atau bisa dibilang musik country-nya orang Minahasa,” jelas Sekho, seraya mengatakan, baginya musik bukan hanya hiburan, tapi alat perjuangan budaya.

Lagu-lagunya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minahasa, baik di tanah kelahiran maupun di perantauan. Ia menyisipkan pesan moral, spiritual, hingga kebersamaan dalam lirik-liriknya. Sebuah upaya menjaga identitas Minahasa agar tak larut dalam globalisasi.

Album Makantar bahkan telah menyabet sejumlah penghargaan bergengsi, antaranya:

  • Piagam Seminar Keliling Penegakan Hukum di bidang HAKI yang dilaksanakan JICA dan Dirjen HAKI Departemen Kehakiman dan HAM RI (2004).
  • Piagam Penghargaan dari Ikatan Wulan dan Waraney Minahasa atas keikutsertaan dalam pagelaran seni dan budaya Minahasa (2006).
  • Juara 2 Lomba Cipta Lagu Indonesia Song Festival 2006 dengan lagu “Anugerah yang Terindah” mewakili Sulut, Gorontalo, dan Maluku Utara.
  • Best Vocalist Indonesia Song Festival 2006 atas nama Indra Tampemawa, yang membawakan lagu ciptaannya.

Sekho tak sekadar melestarikan musik daerah, ia menjadikannya napas hidup. Dengan karya dan suara, ia mengajak generasi muda untuk kembali pada akar – pada Makaaruyen – tempat nilai dan jati diri Minahasa bersemayam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top